 Dilihat Sebanyak :  Join Milis :Simply Click ~>1. Rainbow of ISLAM 2. Klab Santri 3. Coolest Muslim
Contact Me
|
|
|
 |
|
9.12.2006
Sastra gending by mas Didit
Icha yang baik,
E-mail Anda kemarin mengingatkan saya tentang Sastra Gending karya Sultan Agung. Sastra Gending mempertanyakan mana yang lebih dulu bersaksi bahwa Tuhan Ada; mata atau telinga. Ketika kita kecil; Wulan kecil, Soekarno kecil, Jiddu Krishnamurti kecil, Ki Ageng Suryamentaraman kecil, atau Suryanto kecil tahu tentang Tuhan karena diberitahu orangtuanya, neneknya, guru kleniknya, guru spiritualnya, atau siapa pun yang memungkinkan mereka memahami Tuhan meski pemahamaman hakikat Tuhan tak tertampung kata; telingalah yang paling pertama menerima informasi bahwa Tuhan Ada bahkan Maha Ada. Tatkala kita beranjak dewasa, mata menggeser kedudukan telinga. Kita tahu bahwa Tuhan Maha Ada karena kita membaca tidak hanya huruf-huruf kecil; teks book tetapi huruf-huruf akbar--ayat-ayat kauniyah. Jagat alam seisinya ini digelar sesungguhnya mengandung informatif. Kemudian mendadak kita dihadang persoalannya yang rumit sesudah perjalanan ke wilayah kedalaman jiwa yang paling menginti. Sehingga, mana yang paling pertama bersaksi bahwa Tuhan Maha Ada telinga atau mata, gugur karena segera kita mendapati yang paling pertama bersaksi bahwa Tuhan Maha Ada adalah ruh. Struktur pemikiran kita yang demikian itu akan bermuara ke hati; yaitu hati yang bersih. Jika satu organ- -hati-- dalam dirimu itu baik, bersih, niscaya seluruh organ-organ di dalam tubuhmu menjadi baik karena hati memiliki tingkat kepekaan yang tiada tolok bandingkan. Hati menjadi layar kesadaran yang jernih untuk menangkap gelombang kosmologis. Hati yang demikian itu sanggup mematahkan beton- beton pemikiran yang secanggih apa pun, meruntuhkan gunung-gunung kekuasaan seekstrem ap a pun. Senja perlahan turun di beranda depan rumah perkampungan ala kadarnya, seorang bocah laki-laki bertanya kepada kakeknya. + Ayo Kek tunjukkan kepadaku, Tuhan di mana? - Tuhan di belakangmu, cucuku. + Di belakangku? Mana aku tak melihatnya. - Di mana mukamu menghadap, kamu menghadapkan wajahmu ke depan. Jadi, Tuhan tidak bisa dipegang. Tuhan hanya bisa dirasakan; rasakanlah eratnya dengan badanmu. Jika kelembutan ilmumu sampai ke tingkat sak rikma pinara sasra, alam semesta ini menjadi jernih bagimu. Tetapi, jika ilmumu masih butiran debu engkau gagal bertemu denganNya. Satu hal yang ingin kuwasiatkan kepadamu cucuku, bersungguh-sungguhnya mendalami ilmu hakihat hidup dan mati. Mati yang patitis, bener, pener bagai burung lepas dari sangkarnya tahu arah yang tuju. Pandai-pandailah mengucapkan syukur di setiap langkahmu. Rasa syukur jika sampai ke lubuk hatimu yang ter dalam bobotnya sama dengan salat. Jangan gampang tergoda gemerlapnya dunia, wahai cucuku.
Wassalam,
Yogya 4 Agustus
Didit Isdiyanto
Posted at 11:19:16 am by Icha Rochimin
link
Seorang bocah mengisi waktu luang dengan kegiatan mendaki gunung bersama ayahnya. Entah mengapa, tiba-tiba si bocah tersandung akar pohon dan jatuh.
"Aduhh!" jeritannya memecah keheningan suasana pegunungan. Si bocah amat terkejut, ketika ia mendengar suara di kejauhan menirukan teriakannya persis sama, "Aduhh!" Dasar anak-anak, ia berteriak lagi, "Hei! Siapa kau?" Jawaban yang terdengar, "Hei! Siapa kau?"
Lantaran kesal mengetahui suaranya selalu ditirukan, si anak berseru, "Pengecut kamu!" Lagi-lagi ia terkejut ketika suara dari sana membalasnya dengan umpatan serupa. Ia bertanya kepada sang ayah, "Apa yang terjadi?" Dengan penuh kearifan sang ayah tersenyum, "Anakku, coba perhatikan." Lelaki itu berkata keras, "Saya kagum padamu!" Suara di kejauhan menjawab, "Saya kagum padamu!" Sekali lagi ! sang ayah berteriak "Kamu sang juara!" Suara itu menjawab, "Kamu sang juara!"
Sang bocah sangat keheranan, meski demikian ia tetap belum mengerti. Lalu sang ayah menjelaskan, "Suara itu adalah GEMA, tapi sesungguhnya itulah KEHIDUPAN."
Kehidupan memberi umpan balik atas semua perkataan dan perbuatanmu/tindakanmu. Dengan kata lain, kehidupan kita adalah sebuah pantulan atau bayangan atas tindakan kita. Bila kamu ingin mendapatkan lebih banyak cinta di dunia ini, ya ciptakan cinta di dalam hatimu.
Bila kamu menginginkan tim kerjamu punya kemampuan tinggi, ya tingkatkan kemampuan itu. Hidup akan memberikan kembali segala sesuatu yang telah kau berikan kepadanya. Ingat, hidup bukan sebuah kebetulan tapi sebuah bayangan dirimu.
Posted at 10:57:41 am by Icha Rochimin
link
1.3.2006
Rabb, di Dada-Mu Kutemukan Kedamaian
Ya Rabbul Izzati, sekian lama aku mengembara mencari cinta. Terperosok aku dalam kubangan rindu bersulam palsu. Pedih jiwaku, gersang ragaku. Tapi aku tak pernah berhenti memadu rindu, karena ku tahu cinta sejatimu adalah musim semi dalam jiwaku.
Allah, kuberharap pengembaraan cintaku membawaku pada sebuah taman. Menuju ke sana, kulalui dengan tertatih-tatih. Kadang terpikir olehku untuk menuntaskan jalan itu agar aku segera sampai. Tapi yang kutemui hanyalah taman yang gersang dan tandus di bawah panasnya terik matahari yang menyiksa jiwaku.
Rabbku, telah kupenuhi panggilan-Mu, membawa tubuh ringkih ini melewati jalan yang Kau kehendaki. Telah kucoba melepas segenap yang aku mampu untuk mengatasi beratnya medan yang menghalang. Telah coba kuatasi sedapatnya panasnya hari-hari kulewati.

Namun ampuni aku ya Rabbi. Betapa seringnya hamba tertegun ragu, untuk melanjutkan perjalanan yang panjang ini. Semuanya memang dikarenakan kelemahan hati ini yang masih saja berharap mencicipi kenikmatan duniawi.
Kinipun hati yang peragu ini masih diguncang gundah. Akankah Kau terima buah karya tangan lemah ini? Akankah Kau hargai, apabila saat ini hatiku masih juga mengharapkan wajah lain selain wajah-Mu. Jika masih juga kunanti senyum lain selain senyum-Mu. Juga masih kudambakan pujian selain dari pujian-Mu. Betapa semakin berat persangkaanku akan kesia-siaan amalanku, jika kuingat Engkau Maha Pencemburu!!!
Rabbi, bukan tak ingin aku istiqomah melewati hari-hari. Bukan tak hendak aku sabar menanti janji-Mu. Namun Rabbi, apakah salah jika aku menyandarkan diri pada dinding lain dalam sebuah bangunan Islam-Mu? Angkuhkah aku yang lemah ini Rabb? Salahkah aku yang dhoif ini Rabb?
Namun Rabb, lagi-lagi Kau didik aku dalam kealpaan mimpi semuku. Kau dekap aku dalam belaian tarbiyah yang telah banyak mengajarkan aku banyak hal. Tak sanggup kubendung air mata keharuan atas semua belaian ini. Karena aku tahu, tidak semua hamba-Mu Kau perlakukan sama seperti aku. Tersibak juga tirai kelam yang senantiasa menyeret langkahku menjauh dari-Mu, sungguh aku bersyukur atas semua ini. Aku sadar tidak sama pejuang dengan perintang, Kembali ku ingat sebait doa yang pernah kurenda, tentang sebuah janji yang telah kupatri, tentang azzam yang kutanam dan juga segala amanahku. Mengingatnya, semakin deras air mata ku mengalir, semakin kuat dan kokoh kakiku melangkah. Ternyata tanggung
jawab itu besar berada di pundakku.

Rabbana, kekuatan apakah gerangan ini, yang mengantarkan kakiku ke dada pelangi. Jauh melesat meninggalkan bayang-bayang. Bergerak bagai awan putih merindukan terang. Kadang kala kabut pekat yang kutemui. Langkahkupun seolah terhenti. Namun aku tidak mau terjebak di dalamnya, sekuat tenaga kucoba berlari, tapi langkah kaki kecilku berpacu dengan nafsu yang menahan jiwaku. Aku bergumul seorang diri, mulutku berteriak, namun suaraku bersembunyi. Beruntung aku masih punya nafas, yang bisa kudendangkan tatkala hatiku sunyi. Dengan nafas itu aku berjalan di atas bumi. Menuntun hamba-hamba-Mu yang mendambakan cinta sejati.
Rabb, apakah ini jawaban setiap doa-doaku? Agar Engkau sertakan aku di dalam barisan para salafussholeh?. Apakah ini jawaban setiap rintihanku, agar Engkau jadikan setiap nikmat yang ada pada diriku sebagai mahar yang akan aku persembahkan pada-Mu?
Oh Rabbi, ampuni atas segala kelemahan imanku, bimbing aku melewati jalan orang-orang bernyali singa, namun aku cukup arif menyadari Rabb, siapalah aku ini, betapa diri ini tak layak disejajarkan dengan mereka. Siapalah aku ini dibandingkan mereka yang senantiasa bersimbah peluh dan debu untuk membuktikan kecintaanya kepada-Mu? Betapa lancangnya aku mengukur diri dengan mereka yang menghabiskan malam-malamnya dengan sujud tersungkur mengharapkan ampunan dan cinta-Mu.
Ya Rabbana, kesimpulan dari riak-riak hatiku ini, aku ingin sampaikan terima kasihku kepada-Mu. Walaupun syukur dan taubatku sering mungkir, namun lautan kasih sayang dan ampunan-Mu kuyakini tak pernah bertepi

Ya Muhaimin, untuk yang kesekian kalinya, kuucapkan terima kasih yang tak terhingga, atas segala cinta dan pelabuhan rindunya. Kau adalah musim semi dalam relung jiwaku. Dalam pangkuan-Mu, terhimpun seluruh kekuatanku, dengan kekuatan itu tanganku memainkan melodi, mulutku menyanyi lagu syurgawi. Izinkanlah ya Allah aku menjadi penyambung cahayaMu yang tiada pernah pudar.
Allah, Walaupun aku tak layak mensejajarkan diri, tapi aku ingin katakan, tarbiyah telah merubah diriku, melesat meninggalkan angan-angan hampa, bayang-bayang semu, serta dongeng yang tak memiliki cerita. Dalam dekapannya runtuh keangkuhanku, sirna kesombongnnku, lenyap sifat jahiliyahku. Yang ada saat ini bagaimana membentuk diri, seperti yang Engkau kehendaki ...
Rabbi, di dada-Mu kupasrahkan kehidupan, di sana kutemukan kedamaian yang abadi, sujudku tak akan pernah merenggang, jemariku kan terus kususun, bibirku akan terus bergetar, memohon agar senantiasa Kau beri aku kebahagiaan, karena memang hanya dariMu-lah sumber kebahagiaan. (dapet dari Eramuslim.com nich)

|
| |
Posted at 4:37:21 pm by Icha Rochimin
link
12.28.2005
|
Ketika mata ini mulai terbuka dari tidur semalaman ....
ketika itu aku dengar suara adzan shubuh memanggil..
Ketika selimut ini tiada mau mengalah...
ketika itu juga mata ini kembali terpejam...
Ketika hati berkata waktu shubuh hampir usai....
ketika itu juga mata ini terbuka melihat jam dinding....
Ketika jarum jam sampe ke pukul 6.00...
ketika itu juga air wudhu membasuh muka...
Ketika tersadar selesai sholat....
ketika itu juga hati ini berkata...
"NERAKA sudah menantiku karena hari ini aku menunda sholatku..."
| |
Posted at 10:52:37 am by Icha Rochimin
link
12.23.2005
¨°ºº°¨ Allah Maha Tahu dan Mendengar¨°ºº°¨

Beberapa hal yang dapat mendorongmu untuk tetap bertahan!
Jika kau merasa lelah dan tak berdaya dari usaha yang sepertinya sia-sia....
Allah SWT tahu betapa keras engkau sudah berusaha.
Ketika kau sudah menangis sekian lama dan hatimu masih terasa pedih...
Allah SWT sudah menghitung airmatamu.
Jika kau pikir bahwa hidupmu sedang menunggu sesuatu dan waktu serasa berlalu begitu saja...
Allah SWT sedang menunggu bersama denganmu.
Ketika kau merasa sendirian dan teman-temanmu terlalu sibuk untuk menelepon.
Allah SWT selalu berada di sampingmu.
Ketika kau pikir bahwa kau sudah mencoba segalanya dan tidak tahu hendak berbuat apa lagi....
Allah SWT punya jawabannya.
Ketika segala sesuatu menjadi tidak masuk akal dan kau merasa tertekan...
Allah SWT dapat menenangkanmu
Jika tiba-tiba kau dapat melihat jejak-jejak harapan...
Allah SWT sedang berbisik kepadamu.
Ketika segala sesuatu berjalan lancar dan merasa ingin mengucap syukur...
Allah SWT telah memberimu rahmat.
Ketika sesuatu yang indah terjadi dan kau dipenuhi ketakjuban...
Allah SWT telah tersenyum padamu.
Ketika kau memiliki tujuan untuk dipenuhi dan mimpi untuk digenapi...
Allah SWT sudah membuka matamu dan memanggilmu dengan namamu.
Ingat bahwa dimanapun kau atau kemanapun kau menghadap....
ALLAH SWT MAHA TAHU & MAHA MENDENGAR...
[unknow]
 | | |

Posted at 11:54:07 am by Icha Rochimin
link
12.17.2005
Posted at 7:01:09 pm by Icha Rochimin
link
12.16.2005
Betapa Sedikit Kita Bersyukur
|


Betapa Sedikit Kita Bersyukur
Dulu, ada seorang anak kecil, perlahan-lahan ia berusaha mengejar cinta Tuhan-nya, berusaha untuk shalat lima waktu tapi tak pernah bisa, akhirnya suatu ketika keinginan itu terwujud di usianya 9 tahun. Ia begitu bahagia, sangat bahagia sekali...
Tapi alangkah kagetnya ia, usai shalat, seakan ada yang berbisik, "...., umur 20 tahun engkau meninggal..." ia begitu kaget sekali, bertahun-tahun ia hidup dihantui ketakutan, sering jatuh sakit, karena walau sakit sekecil apapun, jika difikir berat, sakit itu sesuai dengan fikiran kita.
Saat cobaan itu datang, yang ada di benaknya hanya satu, bisa menjalani hari-hari dengan baik, tidak terfikir nanti apakah bisa menikah, mengandung dan punya anak. Ia malu terus-terusan menyusahkan orang tua, terkadang jika sakit itu datang, hanya dipendamnya sendiri, airmatanya sering mengalir, sadar akan banyak dosa-dosanya, sadar akan sedikit sekali bekalnya, sadar akan sedikit sekali syukurnya.
Ketika sakit itu reda dan ia kembali sehat, betapa senangnya ia bisa menjalani hari-hari lagi, berusaha mengejar lagi ibadah-ibadahnya yang tertinggal, ia mohon pada Allah diberikan jodoh, namun sang pangeran itu tak kunjung datang.
Silih bergantinya siang dan malam, bilangan hari yang berganti tahun, begitu pun dengan kondisi kesehatannya, anak itu tumbuh menjadi wanita dewasa, dalam hati ia bertanya-tanya, mengapa aku belum juga dipanggil Tuhan? Sedangkan usiaku sudah menjelang seperempat abad? Ya Allah, bukan maksud hatiku mendahului keputusanMu,...
Dari pengalaman yang panjang, dari jatuh bangun kehidupan, tibalah ia pada suatu kesimpulan, "Aku harus berusaha semaksimal mungkin di dunia ini untuk kehidupanku di akhirat kelak, karena sungguh, batas usia adalah takdir Allah yang tidak boleh kita dahului."
Jikalau kita lebih dalam merenungi hidup yang tinggal sepenggalan ini, kembali menuju Allah akan membuat kita jauh lebih tenang dan bersyukur.
Bersyukurlah kepada Allah, walau bagaimanapun adanya dirimu, karena sungguh tiada ada satu pun yang terjadi, melainkan semua itu adalah atas kehendak-Nya.
Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. (QS. Ibrahim 14 : 7).
| | |

Posted at 10:19:19 pm by Icha Rochimin
link
12.10.2005
Nikmat Tuhanmu yang mana yang engkau dustakan???
|
Ya Allah.....
Subhaanallah, ........ Fabiayyi 'ala irobbikuma tukadziban... Nikmat Tuhanmu yang mana yang engkau dustakan???
Ya Allah.... Masihkah aku harus perlu meyakinkan diri atas janji-janjiMU... Ujian sebegitu kecilnya, belumlah sebanding dengan yang dialami rasulullah.. Malu Rabb rasanya... Bagaimana dengan ujian2 yang dialami para sahabat?
Ya Allah.... Alhamdulillah 'ala kulli hal... Rasanya tak pantas bagiku merasakan lagi nikmatMU dengan kepayahan yang kulakukan kemaren, dengan jauhnya aku dariMU Rabb.....
Rabb.. Ampuni hamba, rasanya penyesalan memang selalu di belakang, dan semoga aku bisa mengambil hikmah-hikmahnya, dari setiap keadaan dan kejadian.
"AKU bersama prasangka hambaKU"
Ya Allah... Syukur tak terhingga, ketika jatuh dan hampir tak berbentuk hampir saja menyeretku untuk menjauh dariMU..
Ya Allah... Istiqomahkan hamba, jiddiyahkan hamba, kuatkan hamba Jadikan hamba akhwat yang tangguh ruhiyah, fikriyah, jasadiyah, amaliyah dan maliyah....
Ya Allah..... Sesungguhnya diri ini akan kembali padaMU...
| | 
Posted at 11:13:51 am by Icha Rochimin
link
12.9.2005
Yaa Allah, maafkanlah aku
Yaa Allah, yaa robbal 'alamiin
Tanpa sengaja terkadang aku menyakiti hati saudaraku seiman
Yaa Allah, maafkanlah aku
Terkadang aku tanpa sengaja mengerdilkan semangat juang saudaraku
Yaa Allah, maafkanlah aku
Disaat saudaraku giat mengajak hamba-hambaMu yang lain, aku mengusiknya
Yaa Allah, maafkanlah aku
Tanpa hidayah dan bimbinganMu, mampukah aku menuju ridhoMu
Yaa Allah, maafkanlah aku
Jauhkanlah hati ini dari rasa dengki kepada saudara-saudaraku
Yaa Allah, maafkanlah aku
Lembutkanlah hatiku, perkataanku kepada saudara-saudaraku
Yaa Allah, maafkanlah aku
Engkaulah yang Maha lembut dan bijaksana
Yaa Allah, maafkanlah aku
Tuntunlah aku menuju kearifan dan kebijakasanaan RasulMu dalam menyampaikan risalahMu
Yaa Allah, ampunilah aku, ampunilah aku, ampunilah aku
Posted at 1:06:31 pm by Icha Rochimin
link

Menapak perlahan pada jalan indah ini, Membuatku terhenyak, Sudah berapa banyak tahun-tahun terlewat Tanpa berarti apa-apa?
Melangkah terseok pada jalan indah ini, Membuatku tengadah Ya Illahi ke mana gerangan diriku selama ini? Di haluan mana aku berada, saat orang-orang berlomba menyusuri hanifnya jalanMu? Apa yang membuat aku terlena, sehingga lupa bahwa dunia ini hanya detik-detik waktu yang harus terisi dengan amal di jalanMu
Duh Robbi. pernah adakah manfaat yang orang lain rasakan dariku? Tilas yang mana yang dapat menuntunku untuk menggapai ridhomu? Apakah layak diriku bermimpi untuk menggapai syurgaMu padahal amalanku hanyalah Sholat fardhu belaka.
Menghitung hari-hari yang tersisa Pandanganku terasa nanar, Hatiku gemetar, Ruhku gundah, ingin segera mengais amal. Tapi bagaimanakah? Aku bukan ahli agama yang dapat memberi pencerahan pada ummat, Aku bukan ilmuwan yang punya sekeranjang ilmu yang dapat disedekahkan. Aku hanyalah seorang wanita biasa.
Menghitung hari-hari yang tersisa Aku bersyukur bahwa aku masih diberi sedikit waktu yang penuh limpahan hidayah. Dengannya, akan kucoba untuk meraih RidhoMu, menggapai SyurgaMu
Posted at 12:59:48 pm by Icha Rochimin
link
|
|
|